Absurdism dan Dunia yang Terus Bertanya Dunia sering terasa seperti ruang besar penuh tanda tanya, tempat manusia bangun pagi dengan rutinitas yang sama lalu tidur dengan kegelisahan yang tak selalu bisa dijelaskan. Banyak orang tumbuh dengan cerita bahwa hidup memiliki makna yang rapi, namun seiring waktu, pengalaman menunjukkan bahwa jawaban tidak selalu datang tepat waktu. Dari sini, absurdism menemukan rumahnya, bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai cara melihat realitas dengan jujur dan tenang. Sebuah pagi hujan, seseorang bisa menunggu bus yang terlambat sambil bertanya mengapa semua harus terburu-buru, dan pertanyaan kecil semacam itu sering menjadi pintu masuk ke perenungan yang lebih besar tentang keberadaan.
Akar Sejarah yang Membentuk Absurdism Absurdism tidak lahir dari ruang hampa. Pemikiran ini berkembang kuat pada abad ke-20, terutama melalui tulisan Albert Camus yang hidup di tengah gejolak perang, kolonialisme, dan perubahan sosial besar. Pada masa itu, banyak orang merasakan jarak antara harapan akan makna hidup dan kenyataan dunia yang tampak acuh. Camus mengamati bagaimana manusia terus mencari arti, sementara alam semesta tetap diam. Ketegangan inilah yang disebut sebagai absurditas. Pemikiran tersebut kemudian menyebar, dibaca oleh generasi yang merasakan kelelahan eksistensial akibat tuntutan hidup modern yang tidak pernah benar-benar melambat.
Ilustrasi Albert Camus yang sering dikaitkan dengan lahirnya filsafat absurdism sebagai respons atas dunia yang terasa sunyi terhadap pencarian makna manusia.
Gagasan Inti yang Sering Disalahpahami Di tengah perbincangan populer, absurdism kerap disalahartikan sebagai sikap putus asa atau penolakan terhadap nilai hidup. Padahal, inti pemikirannya justru mengajak manusia untuk menerima kenyataan bahwa makna objektif mungkin tidak tersedia, lalu tetap hidup dengan kesadaran penuh. Dalam pandangan ini, kesadaran menjadi kunci. Seseorang yang menyadari absurditas hidup tidak berhenti bekerja, mencintai, atau bermimpi, melainkan melakukannya tanpa ilusi berlebihan. Kesadaran tersebut sering tumbuh perlahan, melalui kegagalan kecil, percakapan larut malam, dan momen hening ketika dunia terasa berjalan tanpa menunggu siapa pun.
Absurdism menempatkan manusia sebagai makhluk yang terus bertanya dan tidak pernah benar-benar puas dengan jawaban sementara. Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini terlihat ketika seseorang mencapai target karier tertentu namun masih merasa ada ruang kosong yang sulit dijelaskan. Perasaan ini tidak dianggap sebagai kesalahan, melainkan sebagai bagian alami dari kesadaran manusia yang terus bergerak. Dengan memahami hal tersebut, individu dapat berhenti menyalahkan diri sendiri atas kegelisahan yang muncul berulang kali.
Lebih jauh, kesadaran ini mendorong sikap jujur terhadap diri sendiri. Banyak orang menjalani hidup dengan mengikuti skrip sosial tanpa sempat bertanya apakah skrip itu benar-benar sesuai. Absurdism mengajak untuk melihat skrip tersebut, mengenali keterbatasannya, lalu memilih bagaimana bersikap di dalamnya tanpa kehilangan rasa tanggung jawab terhadap sesama.
Konsep pemberontakan dalam absurdism sering dipahami secara dangkal sebagai perlawanan keras terhadap sistem. Dalam konteks filsafat ini, pemberontakan lebih bersifat batiniah, berupa keputusan untuk tetap hidup dengan intensitas meski mengetahui keterbatasan makna. Keputusan ini terlihat sederhana, seperti memilih menikmati secangkir kopi pagi sambil menerima kenyataan bahwa hari tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Dalam jangka panjang, sikap ini melatih ketahanan mental. Seseorang belajar berdamai dengan ketidakpastian, sehingga tidak mudah runtuh ketika rencana berubah. Dunia modern yang serba cepat sering menuntut kepastian, dan absurdism menawarkan ruang bernapas dengan mengakui bahwa ketidakpastian adalah bagian dari pengalaman manusia.
Contoh Nyata di Tengah Kehidupan Modern Absurdism tidak hanya hidup di buku filsafat. Ia hadir di kantor yang penuh target, di jalanan macet, dan di layar ponsel yang terus menampilkan berita campur aduk. Seorang pekerja mungkin merasa pekerjaannya monoton, namun tetap berangkat setiap pagi dengan kesadaran bahwa rutinitas tersebut adalah pilihan sadar untuk bertahan dan memberi makna personal. Dalam relasi sosial, seseorang bisa mencintai dengan sepenuh hati meski menyadari bahwa tidak ada jaminan keabadian. Sikap ini menciptakan kehangatan yang realistis, jauh dari janji kosong.
Gambaran aktivitas sehari-hari yang mencerminkan penerimaan terhadap absurditas, dari rutinitas kerja hingga momen refleksi sederhana.
Absurdism dan Relevansinya di Era Digital Di era digital, informasi mengalir tanpa henti dan sering menciptakan tekanan untuk selalu tahu arah hidup. Absurdism menawarkan sudut pandang alternatif, mengingatkan bahwa tidak semua pertanyaan perlu jawaban instan. Dengan menyadari keterbatasan kontrol, individu dapat menggunakan teknologi sebagai alat, bukan sebagai sumber kecemasan. Banyak orang mulai menemukan kenyamanan dalam membatasi ekspektasi, fokus pada tindakan kecil yang bermakna secara personal, dan membiarkan dunia berjalan tanpa harus selalu dimenangkan.
Penutup yang Mengajak Refleksi Memahami absurdism berarti membuka ruang dialog dengan diri sendiri tentang bagaimana menjalani hidup di dunia yang tidak selalu memberikan penjelasan. Pemikiran ini tidak meminta persetujuan mutlak, melainkan menawarkan lensa untuk melihat realitas dengan lebih jujur. Dengan membaca, berdiskusi, dan mengamati pengalaman sehari-hari, siapa pun dapat menemukan cara unik untuk berdamai dengan absurditas. Dari sana, langkah-langkah kecil yang sadar dapat menjadi bentuk keberanian yang tenang, sebuah sikap hidup yang relevan bagi dunia yang terus berubah.
Leave a Reply